PALU – Fakultas Hukum Universitas Tadulako (FH-UNTAD) sukses menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Dialog Kebangsaan: JAGA KAMPUS KITA!” pada Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Video Conference MKRI FH-UNTAD ini menghadirkan narasumber ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI).
Hadir sebagai pemateri utama, Kol. SUS. Dr. Harianto, M.Pd, selaku Kasubid Pemberdayaan Masyarakat BNPT RI. Acara ini diikuti dengan antusias oleh jajaran akademisi, mahasiswa program sarjana (S1), hingga mahasiswa pascasarjana (S2) Hukum.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Tadulako, Dr. Awaluddin, S.H., S.E., M.H. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kehadiran narasumber dari BNPT merupakan momen istimewa karena topik yang dibahas sangat relevan dengan situasi keamanan nasional saat ini.

Sebagai langkah konkret, Dr. Awaluddin mengungkapkan rencana strategis untuk memperkuat ideologi kebangsaan di lingkungan kampus.
“Kami berencana membentuk Warung NKRI di lingkungan Fakultas Hukum. Ini adalah upaya nyata dalam meningkatkan kesadaran akan cinta tanah air serta sebagai benteng pencegahan tindak radikal dan terorisme di kalangan sivitas akademika,” ujar Dekan FH-UNTAD tersebut.
Acara pembukaan kemudian dirangkaikan dengan penyerahan cenderamata dari pihak fakultas kepada Dr. Harianto sebagai bentuk apresiasi atas ilmu yang dibagikan.

Dalam paparannya, Kol. SUS. Dr. Harianto menegaskan bahwa isu terorisme tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia menyoroti bagaimana transformasi digital telah mengubah pola penyebaran paham radikal.
“Di zaman digital saat ini, paham radikal hingga terorisme dapat dengan mudah diakses melalui media sosial. Hal ini berpotensi memicu konflik berkepanjangan jika kita tidak memiliki pondasi cinta tanah air yang kuat serta rasa toleransi yang kokoh terhadap keberagaman sosial,” jelas Dr. Harianto.
Lebih lanjut, beliau menerangkan bahwa kampus memiliki peran sentral sebagai instansi pendidikan untuk membentuk karakter mahasiswa yang toleran. Ia menegaskan bahwa pencegahan paham intoleran hanya bisa diwujudkan melalui kerja sama yang kuat antar seluruh elemen di dalam kampus.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi alarm pengingat bagi mahasiswa untuk tetap kritis terhadap informasi di media sosial dan aktif menjaga lingkungan kampus dari pengaruh negatif yang merusak karakter bangsa


